Salah satu tolak ukur adanya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari peninggalan cagar budayanya. Objek cagar budaya biasanya berupa benda yang dihasilkan atau dibuat oleh sekelompok orang yang terkait dengan hasil karya serta budaya yang sesuai pada masanya.

Salah satu bentuk peninggalan cagar budaya dapat berupa benda, situs, struktur, kawasan dan bangunan yang memiliki nilai sejarah serta dapat mempengaruhi dan memiliki manfaat bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, serta kebudayaan dan kehidupan masyarakat.

Cagar budaya tidak dapat digantikan dengan teknologi, bersifat sangat langka dan sangat penting karena merupakan bukti adanya aktivitas manusia di masa lampau. Tak heran bila penanganannya harus dilakukan secara hati-hati tanpa ada kerusakan dan perubahan sedikitpun.

***

Indonesia merupakan bangsa yang memiliki objek peninggalan dengan nilai budaya yang tinggi. Warisan Cagar Budaya Indonesia tersebar diseluruh penjuru Nusantara seperti Kompleks Candi, Prasasti, hingga Keraton peninggalan kerajaan pada masa lampau.

Keraton Sumenep

Kompleks Situs Keraton Sumenep

Salah satu contohnya adalah Situs keraton Sumenep yang berada di daerah kelahiran saya yaitu Kabupaten Sumenep. Situs keraton dulunya menjadi pusat pemerintahan sekaligus kediaman bagi raja dan adipati. Apabila ditelaah lebih mendalam, Keluarga kerajaan keraton sumenep masih memilih hubungan keluarga dengan keraton yang ada di Jogja dan Solo.

Keraton Sumenep dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Somala yang merupakan Penguasa Sumenep XXXI pada tahun 1781. Pembangunan keraton tidak lepas dari arsitek keturunan Tionghoa yaitu Lauw Piango yang mengungsi akibat adanya Huru Hara di Semarang pada tahun 1740 M.

Pembangunannya dilakukan secara bertahap, dibangun di sebelah timur keraton Gusti R.AR. Tirtonegoro dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro. Situs Keraton sumenep yang menjadi salah satu aset, bukti serta jejak keberadaan Sumenep masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Labeng Mesem Dalam

Labeng Mesem Tampak Dalam

Labeng Mesem atau Pintu Senyum merupakan gerbang utama yang harus dilewati oleh para pengunjung apabila ingin masuk ke kompleks Keraton Sumenep. Konon dahulu sebutan nama “Mesem” berawal dari penjaga pintu tersebut yang merupakan 2 prajurit kerdil sehingga keberadaannya mengundang gelak tawa para tamu. Cerita tersebut didukung dengan adanya bukti pintu masuk ruangan dalam penjaga yang ukurannya sangat rendah dan kecil.

Labeng mesem yang berarsitektur tajuk tumpang menjadi tempat untuk memantau segala aktivitas didalam keraton termasuk kawasan taman sare yang menjadi tempat pemandian putri adipati zaman dahulu. Kedua sisi Labang Mesem memiliki atap berbentuk setengah perisai, dimana diantara tiang-tiang terdapat pagar kayu bermotif geometris.

Pintu Gerbang (Labeng Mesem) yang memiliki gaya bangunan tradisional dan Eropa ini melambangkan keramahan keraton terhadap para tamu yang berkunjung.

10 soko guru dengan ornamen motif bunga

10 soko guru dengan ornamen motif bunga

Sejatinya situs keraton sumenep merupakan bangunan yang terdiri dari bangunan pendopo agung, lorong mondiyoso dan keraton dalem. Bangunan tersebut mengusung gaya arsitektur tradisional Tionghoa dan Eropa.

Bangunan Pendopo bentuknya sekilas mirip bangunan khas jawa, ditopang dengan 10 soko guru dengan ornamen motif bunga berwarna merah dan kuning keemasan, sementara atapnya berbentuk limasan sinom, dan bubungannya mencuat seperti kepala naga sepintas mirip bangunan kelenteng china. Lantai bagian dalam masih asli dan terbuat dari marmer. Lampu gantung antik menambah kesan indah, dimana dulu ruangan ini digunakan untuk menghadap adipati.

Lorong Mendiyoso

Lorong Mendiyoso

Untuk masuk ke dalam keraton dalem, pengunjung harus melewati lorong mondiyoso. Bangunan ini menghubungkan antara pendopo dengan keraton dalem, berbentuk lorong terbuka tanpa dinding dengan arsitektur bergaya eropa.

Situs Keraton Sumenep

Pintu Keraton Dalem

Didepan keraton dalem pengunjung akan disambut dengan pintu besar hitam yang megah. Untuk keraton dalem terdiri dari 3 lantai, lantai pertama terdapat 4 ruangan yang memiliki fungsi berbeda-beda. Tepat sebelah kanan pintu masuk adalah kamar tidur adipati terbuat dari kayu jati setinggi satu meter dengan ukiran motif bunga, sedangkan kamar istri adipati ada di sebelah kiri. Didalam juga terdapat dua kamar berpintu kaca yang merupakan kamar putra dan putri adipati. Dua kamar ini di sakralkan dan tidak boleh dimasuki oleh umum kecuali keturunan langsung adipati sumenep.

Lantai 2 Keraton Dalem

Lantai kedua, terdiri dari 3 ruangan berisi seperangkat meja dan kursi dengan model yang berbeda. Dahulu, lantai dua ini di keraton dalem berfungsi sebagai ruang pingitian selama 40 hari bagi putri adipati yang ingin menikah, sedangkan lantai tiga sengaja dibiarkan kosong yang dahulunya digunakan panembahan somala untuk bertafakkur mendeketkan diri kepada Allah.

Beberapa Benda peninggalan sejarah

Beberapa Benda peninggalan sejarah, dan ada banyak lainnya

Selain bangunan, peninggalan sejarah kerajaan keraton Sumenep terdiri dari benda, prasasti dan peralatan yang digunakan pada kala itu. Peralatan dirawat dengan baik oleh pengelola, tapi sayangnya masih ada beberapa oknum yang usil sehingga ada beberapa benda peninggalan yang hilang.

Rawat Atau Musnah?

Kurangnya perhatian dan apresiasi terhadap objek cagar budaya menjadi faktor pemicu semakin tingginya vandalisme seperti perusakan, pemalsuan, pencurian hingga penelantaran terhadap cagar budaya.

Tak hanya itu, keadaan tersebut diperparah dengan lemahnya penegakan hukum serta kesadaran masyarakat dalam memahami arti penting sebuah cagar budaya. Kejadian tersebut tentu disebabkan oleh kurangnya sosialisasi sehingga informasi dan pengetahuan tidak sampai ke masyarakat.

Dampaknya, partisipasi masyarakat akan sangat rendah dalam upaya pelestarian cagar budaya. Selain itu, pandangan bahwa upaya pengelolaan suatu cagar budaya penting untuk memperhatikan kebermaknaan sosial situs bagi lingkungan sekitar.

Pandangan ini memunculkan persepsi dan sikap yang berbeda bila dibandingkan dengan persepsi yang dimiliki oleh pelestari terdahulu. Artinya, paradigma pelestarian cagar budaya pada masa kini harus berubah, tak hanya pada upaya konservasi secara fisik saja melainkan juga harus memperhatikan kebermaknaan sosial situs bagi masyarakat disekitar.

Data Cagar Budaya di Indonesia 2018

Data Cagar Budaya di Indonesia 2018

“Tinggal Pilih Rawat Atau Musnah?”

Apabila mayoritas dari kita sudah memiliki persepsi bahwa cagar budaya tidak memiliki makna penting, hilang sudah peradaban bangsa, dan jangan kecewa bila indentitas bangsa kita akan musnah!. Sebagai generasi muda (millenial), saya tidak menginginkan cagar budaya leluhur kita musnah begitu saja, oleh karena itu, mari kita curahkan isi pikiran dengan memberikan sepatah solusi yang semoga menjadi harapan kedepan.

Dari data diatas, prioritas urgensi ada pada kesadaran masyarakat. Tak perlu menyalahkan salah satu pihak, melainkan mari kita bergandeng tangan untuk melestarikan warisan budaya bangsa ini.

Upaya Pelestarian Cagar Budaya: Mari Prioritaskan Keterlibatan Masyakarat

Sekali lagi, keberadaan warisan cagar budaya ada di tangan kita semua. Sepenuh apapun usaha pemerintah dalam mengelola cagar budaya tidak akan pernah berjalan efektif apabila kita (masyarakat) masih belum sadar akan arti penting suatu cagar budaya.

Mengingat adanya pola perubahan paradigma terhadap pelestarian cagar budaya, oleh karena itu diperlukan keseimbangan aspek lingkungan, akademis, ideologis, dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tak hanya soal paradigma, adanya perubahan yang begitu dinamis dan keegoisan usaha pembangunan di negara kita mennjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian. Kegiatan yang notabennya menghiraukan keberadaan cagar budaya hingga kini masih terus berlangsung, sehingga menimbulkan menurunnya kuantitas dan kualitas keberadaan cagar budaya.

Bila begitu, tak bisa kita mengartikan istilah pelestarian sebagai unsur yang statis lagi, melainkan berubah menjadi unsur dinamis. Berbagai pihak harus bersinergis untuk saling mengkombinasikan antara Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan.

1. Berikan Sertifikasi Tim Ahli

Tim ahli dapat dibentuk dari kalangan pemerintahan dan masyarakat, mengapa harus dari masyarakat? yups karena masyarakat memiliki peran penting dalam penemuan benda benda bersejarah.

Jadi, apabila ditemukan peninggalan bersejarah, tim ahli dari masyarakat dapat meninjau langsung terlebih dahulu apakah penemuan tersebut dapat dikategorikan cagar budaya? Ibaratnya masyarakat punya peran dalam penanganan pertama sebelum penemuan tersebut di verifikasi lebih lanjut.

2. Bangun Kemanfaatan untuk Masyarakat Sekitar

Pelestarian cagar budaya harus dimulai dari kesadaran masyarakat setempat. Kita tau bahwa paradigma berpikir masyarakat terhadap cagar budaya sudah berubah. Oleh karena itu, sosialisasikan apa prospek, potensi dan peluang apabila ada objek cagar budaya di daerah tersebut. Salah satunya digunakan sebagai objek wisata.

Bangun Kesadaran Masyarakat

Dengan adanya informasi dan pengetahuan kepada masyarakat, maka dapat dipastikan masyakarat akan ikut andil dalam perlindungan dan pemanfaatan objek cagar budaya tersebut.

3. Mulai dari Pendidikan di Sekolah

Penerus bangsa adalah kaula muda, bagaimana peradaban akan terjaga apabila kaum mudanya sudah tidak tau warisan budaya yang dimilikinya? Wadah paling tepat yakni dimulai dari pendidikan, dengan memberikan pelajaran berupa Budaya Daerah.

Pendidikan Kebudayaan

Saya sendiri mengetahui bagaimana sejarah ditemukannya candi dan kerajaan di Kabupaten Sumenep (tempat kelahiran) yaitu dari mata pelajaran. Tak hanya itu, pemerintahan setempat harus bekerja sama dengan para tenaga pengajar untuk sesekali memberikan arahan untuk observasi lapangan, memberikan tugas dan lain sebagainya.

4. Bangun Komunitas Pecinta dan Event Kebudayaan yang Berkelanjutan

Adanya komunitas akan membentuk kebiasaan dan kesadaran akan keberadaan nilai nilai sejarah. Biasanya, komunitas akan selalu konsisten membagikan hasil kunjungannya kepada publik.

Salah satu wujud nyata adalah diadakannya event kebudayaan oleh komunitas pecinta cagar budaya. Jaringan komunitas yang memiliki kesukaan yang sama akan berkumpul dalam event tersebut sehingga memungkinkan cagar budaya kita akan dikenal lebih luas ke berbagai daerah bahkan hingga luar negeri.

5. Manfaatkan Dunia Digital untuk Promosi dan Pengembangan Informasi

Dunia digital seharusnya menjadi angin segar sebagai sarana untuk melalukan promosi ke berbagai penjuru dunia, ajak kaula muda dengan mengumpulkan semua influencer daerah setempat untuk melakukan promosi secara berkelanjutan.

Kekuatan influencer dalam mempengaruhi seseorang untuk berkunjung sangat kuat. Apabila kunjungan ke cagar budaya terus bertumbuh maka masyarakat akan mendapatkan dampak kemanfaatannya. Tapi pengelola harus tetep mengawasi dan memperhatikan kapasitas pengunjung pada objek agar tidak over yang akan menyebabkan kerusakan.

Media Promosi dalam Upaya Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Dan terakhir adalah pengembangan informasi. Untuk menumbuhkan nilai nilai sejarah bagi para pengunjung maka media informasi menjadi sangat penting, selain menjadi bahan informasi juga sebagai wawasan bagi pengunjung.

Selain itu, pemerintahan setempat harus gencar mengembangan sistem informasi berbasis web untuk mengelola data cagar budaya yang ada di daerah setempat guna mempermudah proses peninjauan serta verifikasi status cagar budaya tersebut. Data diolah sangat penting sebagai bahan evaluasi bagaimana perkembangan penanganan terhadap objek cagar budaya.

Mari kita ikut berkontribusi dalam pelestarian cagar budaya dengan ikut serta dalam upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Kalau bukan kita, siapa lagi?